- Kita Tidak Selalu Mencari Informasi, Kadang Kita Hanya Mencari Hal Baru
- Algoritma Juga Tahu Apa yang Bikin Kita Bertahan
- Konten Tidak Penting Bukan Berarti Tidak Berguna
- Dopamine, Rasa Penasaran, dan “Satu Video Lagi”
- Dari Scrolling ke Doomscrolling
- Kenapa Konten Pendek Begitu Susah Dilewatkan?
- Apakah Scrolling Bisa Mempengaruhi Attention Span?
- Jadi, Haruskah Berhenti Scrolling?
- Pada Akhirnya, Bukan Soal Kontennya Penting atau Tidak

Pernah buka TikTok atau Instagram cuma karena ingin “lihat sebentar”, lalu tiba-tiba sudah 30 menit berlalu?
Padahal, sebagian besar konten yang kita lihat bahkan tidak terlalu penting. Video kucing, meme random, drama di internet, orang mencoba makanan yang belum tentu ingin kita beli, sampai video dengan topik yang sebenarnya tidak pernah kita cari.
Tapi anehnya, kita tetap scroll.
Recommended posts
Satu video selesai, lanjut ke video berikutnya. Lalu berikutnya lagi. Sampai akhirnya muncul pertanyaan, “Tadi aku buka HP mau ngapain, ya?”
Sebenarnya, kenapa kita bisa betah menghabiskan waktu untuk konten yang bahkan tidak kita cari?
Kita Tidak Selalu Mencari Informasi, Kadang Kita Hanya Mencari Hal Baru
Salah satu alasan kita sulit berhenti scrolling adalah karena otak kita menyukai sesuatu yang baru dan tidak terduga.
Saat scrolling, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan muncul setelah video yang sedang ditonton. Bisa jadi meme lucu, video yang bikin penasaran, berita terbaru, atau sesuatu yang benar-benar random.
Ketidakpastian inilah yang membuat aktivitas scrolling terasa menarik.
Kita terus berpikir, “Coba lihat satu lagi.”
Masalahnya, “satu lagi” bisa berubah menjadi puluhan video.
Algoritma Juga Tahu Apa yang Bikin Kita Bertahan
Kalau kamu merasa timeline media sosial semakin lama semakin “mengerti” kamu, itu bukan kebetulan.
Platform media sosial menggunakan berbagai sinyal dari aktivitas pengguna untuk menentukan konten yang kemungkinan besar menarik perhatian. Apa yang kamu tonton, berapa lama kamu menontonnya, konten yang kamu sukai, bagikan, komentari, atau bahkan lewati, semuanya bisa membantu membentuk rekomendasi berikutnya.
Itulah mengapa setelah beberapa kali menonton konten tentang skincare, misalnya, tiba-tiba timeline kamu dipenuhi review skincare, rekomendasi produk, sampai video “racun” produk yang sebenarnya tidak pernah kamu cari.
Semakin sering kita berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin besar kemungkinan kita melihat konten serupa.
Akhirnya, scrolling terasa sangat personal.
Dan justru karena itulah, sulit berhenti.
Konten Tidak Penting Bukan Berarti Tidak Berguna
Tapi tunggu dulu. Apakah menonton konten random selalu buruk?
Tentu tidak.
Kita tidak harus mendapatkan informasi penting dari setiap menit yang kita habiskan di internet.
Menonton meme setelah seharian bekerja atau melihat video lucu saat sedang bosan juga bisa menjadi bentuk hiburan. Tidak semua aktivitas online harus produktif.
Masalahnya muncul ketika scrolling mulai mengambil alih waktu yang sebenarnya ingin kita gunakan untuk hal lain.
Misalnya, kamu berniat tidur pukul 11 malam, tetapi terus scrolling sampai pukul 1 pagi.
Atau ingin mengerjakan tugas selama 30 menit, tetapi baru mulai setelah menghabiskan waktu cukup lama melihat konten yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan tugas tersebut.
Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal kontennya penting atau tidak, tetapi soal seberapa besar kontrol kita terhadap kebiasaan scrolling.
Dopamine, Rasa Penasaran, dan “Satu Video Lagi”
Kita sering mendengar istilah dopamine ketika membahas media sosial.
Secara sederhana, dopamine merupakan neurotransmitter yang terlibat dalam sistem reward, motivasi, dan pembelajaran. Ketika kita menemukan sesuatu yang menyenangkan atau menarik, sistem reward otak dapat ikut aktif.
Dalam konteks scrolling, hal menariknya adalah kita tidak tahu kapan akan menemukan konten yang benar-benar kita sukai.
Video pertama biasa saja.
Video kedua juga biasa.
Lalu tiba-tiba video ketiga sangat lucu.
Pengalaman seperti ini bisa membuat kita terus mencari konten berikutnya dengan harapan menemukan sesuatu yang menarik lagi.
Jadi, bukan hanya kontennya yang membuat kita terus scrolling. Rasa penasaran tentang apa yang akan muncul berikutnya juga ikut berperan.
Dari Scrolling ke Doomscrolling
Ada satu kebiasaan lain yang semakin sering dibicarakan: doomscrolling.
Berbeda dengan scrolling biasa, doomscrolling biasanya merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif meskipun hal tersebut membuat kita merasa cemas, stres, atau tidak nyaman.
Misalnya, kamu membaca satu berita buruk.
Kemudian mencari informasi lainnya.
Lalu membaca komentar.
Kemudian melihat video terkait.
Tanpa sadar, kamu sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk mengikuti sesuatu yang sebenarnya membuat pikiran semakin lelah.
Ini menunjukkan bahwa kita tidak selalu scrolling karena kontennya menyenangkan. Kadang, rasa khawatir dan keinginan untuk terus mencari informasi juga bisa membuat kita sulit berhenti.
Kenapa Konten Pendek Begitu Susah Dilewatkan?
Konten pendek punya satu keunggulan besar: mudah dikonsumsi.
Kita tidak perlu menyediakan waktu khusus untuk menontonnya.
Satu video mungkin hanya berdurasi beberapa detik. Kalau tidak suka, tinggal swipe. Kalau menarik, lanjut.
Tidak ada komitmen besar.
Dan justru karena itulah kita bisa mengonsumsinya berkali-kali tanpa merasa sedang melakukan aktivitas yang memakan waktu.
Lima menit terasa seperti lima menit.
Sampai kita melihat jam dan menyadari ternyata sudah satu jam.
Apakah Scrolling Bisa Mempengaruhi Attention Span?
Penggunaan media sosial yang berlebihan sering dikaitkan dengan masalah perhatian dan kesulitan mempertahankan fokus. Namun, hubungan antara penggunaan media sosial dan attention span tidak sesederhana “scrolling membuat otak rusak”.
Yang lebih penting adalah pola penggunaan kita.
Jika kita terbiasa berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain dalam waktu sangat singkat, mempertahankan perhatian pada aktivitas yang lebih lambat seperti membaca, belajar, atau mengerjakan pekerjaan panjang bisa terasa lebih menantang.
Bukan berarti setiap orang yang suka TikTok otomatis memiliki attention span yang buruk.
Tetapi kebiasaan digital memang dapat memengaruhi bagaimana kita menggunakan waktu, perhatian, dan fokus sehari-hari.
Jadi, Haruskah Berhenti Scrolling?
Tidak harus.
Kita tidak perlu menghapus semua media sosial atau melakukan digital detox ekstrem hanya karena suka scrolling.
Yang lebih penting adalah mulai menyadari kenapa kita sedang scrolling.
Coba tanyakan pada diri sendiri:
- Apakah aku memang ingin mencari sesuatu?
- Apakah aku sedang mencari hiburan?
- Atau sebenarnya aku hanya membuka aplikasi karena bosan?
- Sudah berapa lama aku scrolling?
- Apakah aku masih menikmati kontennya atau hanya terus melanjutkan kebiasaan?
Beberapa kebiasaan sederhana juga bisa membantu, seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, memberikan batas waktu penggunaan aplikasi, meletakkan HP ketika sedang bekerja atau belajar, dan menghindari scrolling saat sudah waktunya tidur.
Tidak perlu langsung sempurna.
Yang penting, kita mulai punya kontrol.
Pada Akhirnya, Bukan Soal Kontennya Penting atau Tidak
Internet memang penuh dengan hal-hal yang tidak penting.
Dan mungkin memang itu salah satu alasan internet menyenangkan.
Kita bisa menemukan meme absurd, video random, tren aneh, cerita orang lain, atau sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikir akan kita lihat hari ini.
Jadi, tidak ada yang salah dengan menikmati konten tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika “cuma mau lihat sebentar” berubah menjadi kebiasaan yang mengambil terlalu banyak waktu dan perhatian kita.
Karena pada akhirnya, masalahnya bukan apakah konten yang kita tonton penting atau tidak.
Pertanyaannya adalah: apakah kita yang memilih untuk scroll, atau justru scrolling yang memilih untuk terus membuat kita bertahan?



