s.id
Blog

September, New Trend! 5 Tren Social Media yang Wajib Kamu Pantau

by Admin

September datang, dan kalau kamu mengira social media bakal berjalan seperti bulan sebelumnya, think again.

Dunia social media bergerak super cepat. Format yang minggu lalu ramai bisa tiba-tiba hilang dari timeline, sementara tren baru muncul dan langsung digunakan oleh jutaan orang.

Buat content creator, social media manager, maupun pemilik bisnis, mengikuti tren bukan berarti harus ikut-ikutan semua hal yang viral.

Justru tantangannya adalah menemukan tren yang relevan, lalu mengubahnya menjadi konten yang cocok dengan brand kamu.

Nah, memasuki September 2026, ada beberapa tren yang menarik untuk diperhatikan.

1. Short-Form Video Masih Jadi “Raja”

Kalau kamu masih bertanya, “Video pendek masih efektif nggak?”

Jawabannya: masih banget.

TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts terus mendorong format video pendek sebagai salah satu cara utama untuk mendapatkan perhatian audiens.

Bahkan, video pendek sekarang bukan cuma digunakan untuk hiburan.

Brand menggunakannya untuk edukasi, tutorial, storytelling, review produk, behind the scenes, sampai membangun personal branding. Short-form video juga semakin masuk ke berbagai industri, termasuk komunikasi B2B.

Tapi ada satu perubahan penting.

Sekarang bukan sekadar “buat video pendek.”

Persaingannya sudah bergeser menjadi:

Siapa yang bisa membuat orang berhenti scrolling?

Hook dalam 1–3 detik pertama semakin penting.

Contohnya:

❌ “Halo guys, hari ini kita akan membahas…”

vs.

✅ “Kenapa bisnis kamu sepi padahal followers-nya banyak?”

Yang kedua langsung membuat orang bertanya:

“Kenapa?”

Dan itulah yang membuat mereka berhenti scrolling.

Yang bisa kamu coba:

  • Buat opening yang langsung ke masalah.
  • Gunakan storytelling daripada sekadar promosi.
  • Jangan terlalu lama masuk ke inti konten.
  • Buat video yang tetap menarik meskipun tanpa suara.
  • Uji beberapa versi hook untuk topik yang sama.

Karena di social media hari ini, attention is currency.

2. Konten Serial Lebih Menarik daripada Konten Sekali Lewat

Pernah menemukan video dengan tulisan:

“Part 1”

Lalu tanpa sadar kamu mencari Part 2, Part 3, bahkan Part 7?

Itulah kekuatan episodic content.

Alih-alih membuat satu konten yang berdiri sendiri, brand dan creator mulai membangun konten dalam bentuk serial.

Misalnya:

“30 Hari Membangun Bisnis dari Nol”

Episode 1: Cari ide Episode 2: Riset pasar Episode 3: Membuat produk Episode 4: Mendapatkan pelanggan pertama Episode 5: Gagal untuk pertama kali

Dan seterusnya.

Format seperti ini membuat audiens memiliki alasan untuk kembali.

Menurut Sprout Social, storytelling dalam bentuk serial menjadi salah satu fokus penting marketer pada 2026 karena dapat membangun retensi dan membuat audiens mengikuti perjalanan konten secara berkelanjutan.

Ini juga cocok untuk brand.

Daripada setiap hari berkata:

“Beli produk kami!”

Coba ubah menjadi cerita.

“Bagaimana produk ini dibuat?”

“Apa yang terjadi di balik layar?”

“Perjalanan kami mendapatkan 1.000 pelanggan pertama.”

Karena orang mungkin lupa iklan yang mereka lihat kemarin.

Tapi mereka bisa penasaran dengan kelanjutan sebuah cerita.

3. AI Makin Canggih, Tapi Konten “Terlalu AI” Justru Bisa Bikin Bosan

AI sekarang sudah masuk ke hampir semua tahap produksi konten.

Mulai dari mencari ide, membuat script, menghasilkan gambar, editing video, membuat caption, sampai menganalisis performa.

Namun, ada paradoks menarik.

Semakin banyak konten yang dibuat dengan AI, semakin berharga konten yang terasa manusiawi.

Masalahnya bukan pada penggunaan AI.

Masalahnya adalah ketika semua konten terasa seperti dibuat menggunakan template yang sama.

Caption terdengar sama.

Visual terlihat sama.

Cara bicara sama.

Bahkan humornya pun terasa seperti hasil prompt yang sama.

Padahal, audiens ingin melihat sesuatu yang terasa real, relatable, dan punya personality.

Karena itu, tren yang lebih menarik bukan:

AI vs Human

Melainkan:

AI + Human.

Gunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi tetap berikan pengalaman, opini, humor, cerita, dan karakter manusia ke dalam konten.

AI bisa membantu kamu membuat 10 ide konten.

Tapi kamu yang menentukan mana yang benar-benar terasa seperti brand kamu.

4. Creator Bukan Lagi Sekadar “Endorser”

Dulu, ketika brand ingin bekerja sama dengan influencer, pendekatannya sering sederhana:

“Posting produk kami, ya.”

Sekarang, perannya sudah berkembang.

Creator tidak hanya menjadi wajah sebuah brand.

Mereka menjadi content partner, storyteller, sekaligus distribution channel.

Brand semakin melihat creator berdasarkan kemampuan mereka membuat konten yang terasa natural bagi audiens mereka.

Itulah mengapa micro dan nano creators juga semakin menarik.

Followers mungkin tidak sebanyak celebrity influencer.

Tapi komunitas mereka bisa jauh lebih spesifik dan terasa lebih dekat.

Misalnya, daripada bekerja sama dengan influencer lifestyle dengan jutaan followers, sebuah brand teknologi mungkin lebih memilih creator dengan 20.000 followers yang memang membahas teknologi setiap hari.

Kenapa?

Karena yang dicari bukan hanya reach.

Tetapi:

relevance + trust + engagement.

Influencer Marketing Hub juga mencatat adanya pergeseran perhatian ke creator tier yang lebih kecil, termasuk nano dan micro creators, sementara creator semakin diposisikan sebagai bagian penting dari strategi marketing, bukan sekadar talent untuk kampanye.

Jadi kalau kamu punya bisnis kecil, jangan langsung berpikir:

“Influencer besar pasti lebih bagus.”

Kadang, creator dengan komunitas kecil tapi tepat sasaran justru bisa memberikan dampak yang lebih besar.

5. Social Media Bukan Lagi Cuma Tempat “Posting”

Ini mungkin perubahan yang paling besar.

Social media sekarang semakin menjadi tempat orang:

Discover → Research → Trust → Buy

Seseorang bisa menemukan produk lewat TikTok.

Kemudian mencari review di Instagram.

Melihat komentar pengguna lain.

Mengunjungi profil brand.

Klik link.

Dan akhirnya melakukan pembelian.

Artinya, social media sudah semakin dekat dengan proses transaksi.

Social commerce juga terus menjadi bagian penting dalam perkembangan marketing digital, sementara pengguna kini berpindah-pindah di berbagai platform untuk menemukan konten dan brand yang mereka percaya.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Berapa views yang kita dapat?”

Mulai tanyakan juga:

“Setelah melihat konten ini, audiens melakukan apa?”

Apakah mereka mengunjungi website?

Klik link?

Mengikuti akun?

Menyimpan konten?

Mengirimkannya ke teman?

Atau bahkan membeli?

Karena viral memang menyenangkan.

Tapi viral yang menghasilkan sesuatu jauh lebih menarik.

Bonus: Jangan Kejar Semua Tren

Ini bagian yang sering dilupakan.

Ketika sebuah sound viral, bukan berarti brand kamu harus menggunakannya.

Ketika sebuah format ramai, bukan berarti kamu harus membuatnya.

Dan ketika kompetitor mendapatkan jutaan views dengan satu jenis konten, bukan berarti kamu harus menirunya.

Tren itu alat, bukan strategi.

Sebelum ikut tren, coba tanyakan tiga hal:

1. Apakah tren ini relevan dengan audiens saya?

Kalau tidak, skip.

2. Apakah tren ini bisa dikaitkan dengan brand saya?

Kalau dipaksakan, audiens bisa langsung merasa sedang melihat iklan.

3. Apakah tren ini membantu tujuan saya?

Apakah untuk awareness, engagement, traffic, community building, atau sales?

Kalau jawabannya tidak ada, mungkin lebih baik tidak ikut.

Karena menjadi relevan lebih penting daripada sekadar menjadi viral.

September Bukan Saatnya Posting Lebih Banyak, tapi Posting Lebih Pintar

Social media akan terus berubah.

Format baru akan muncul.

Sound baru akan viral.

Algoritma akan berubah.

Dan tren yang hari ini ramai mungkin sudah dilupakan beberapa minggu lagi.

Tapi satu hal yang tidak berubah:

People follow people, stories, and brands that give them a reason to care.

Jadi, memasuki September ini, jangan hanya bertanya:

“Apa yang sedang viral?”

Coba tanyakan:

“Apa yang sedang berubah, dan bagaimana brand saya bisa ikut di dalamnya dengan cara yang autentik?”

Karena pada akhirnya, social media bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren.

Tetapi siapa yang paling pintar mengubah tren menjadi sesuatu yang berarti.

Apakah post ini membantu?

s.id

s.id © 2026 All rights reserved